Pengendali KA Senior di PK/OC Cirebon

“Copy … bravo. Check-in diterima baik … modulasi clear di PK … report baliknya bravo … Ganti” ucapnya ketika ditemui di PK/OC DAOP 3 Cn. Kebetulan dia sedang dinas sebagai pengendali KA wilayah Timur Selatan (lintas Cirebon – Tegal dan Cirebon – Prupuk). Penampilannya sederhana dan sempat memberikan salam hangat. Ditanya apakah boleh wawancara ketika sedang dinas dengan ramah beliau menjawab “Silahkan kebetulan di lintas saya baru ada 2 KA, jadi nggak terlalu sibuk.”

Luar biasa, itulah komentar yang patut diberikan kepadanya karena telah berhasil menghindarkan KA dari PLH sebanyak 3 kali selama berdinas di PK/OC sejak tahun 2000. Untuk prestasinya tersebut rekan kita telah memiliki 3 lembar tanda penghargaan. Penghargaan pertama sewaktu mengambil tindakan tepat saat KA Brantas mengalami as roda patah antara stasiun Losari – Babakan. Penghargaan kedua sewaktu mengambil tindakan tepat saat KA Taksaka mengalami gejala aspot panas antara Larangan – Songgom dan penghargaan ketiga sewaktu KA Argo Bromo Anggrek mengalami gejala aspot panas antara stasiun Kertasemaya – Jatibarang.

Mengawali karirnya di Stasiun Cirebon dengan ijasah SMP berpangkat Jrd.1 sebagai Pembantu PPKA pada tahun 1981 setelah mengikuti diklat Lalau Lintas Tingkat 1. Kemudian menjadi petugas loket setelah mengikuti diklat Lalu Lintas Tingkat 2. Kepala Stasiun Cirebon pada waktu itu mempercayainya sebagai TU Loket (OA) yang sempat dijalaninya selama 4 tahun. Setelah mengikuti diklat Lalu Lintas Tingkat 3, kemudian diuji sebagai PPKA dan memiliki brevet B50 yang selanjutnya diangkat sebagai PPKA NX Stasiun Cirebon hingga tahun 2000.

Karena dedikasi yang baik sebagai PPKA kemudian dimutasi ke PK/OC DAOP 3 Cn sebagai pengendali KA. Tidak sia-sia perusahaan menempatkannya di PK/OC, terbukti dengan beberapa kali dia berhasil menghindarkan KA dari kecelakaan. Belum termasuk pengarahan beliau terhadap para pengendali junior terhadap teknis pengendalian KA. Tidak heran kalau dia kadang dipanggil “suhu” (baca: guru) oleh rekan-rekan sesama pengendali KA.

Bukan itu saja kelebihan suami dari Eti Kurnaeti yang dikaruniai 3 orang putra/putri. Ketenangan dalam mengambil keputusan yang tepat di saat-saat genting atau kekusutan PERKA sering menjadi acuan rekan-rekan seprofesinya. Ketika ditanya perjalanan hidup sebagai pegawai kereta api dia menjawab lebih banyak suka dibanding dukanya sebab tugas, kewajiban dan tanggung jawab yang diberikan perusahaan dijalaninya dengan hati lapang.

Namun, masih terekam dalam ingatannya ketika salah seorang putranya dipanggil Yang Maha Kuasa. “Saya harus meninggalkan anak yang sedang sakit keras di rumah karena harus dinas. Saat menjalankan tugas kemudian mendapat kabar anak saya meninggal dunia. Saya nggak bisa segera pulang karena belum ada yang mengganti dinasan saya. Setelah dicarikan pengganti baru saya bisa pulang.” jelasnya menggambarkan salah satu dukanya sebagai pegawai. Memang cukup berat menjadi pegawai kereta api karena harus dinas bergantian (shift) dengan keterbatasan jumlah SDM saat ini.

Semua itu dapat dilalui dengan tabah dan sabar karena tingginya dukungan keluarga terhadap profesinya. Istri dan anak-anaknya dapat memahami tugas dan tanggung jawab yang dipikulnya sebagai pegawai kereta api. Prinsip hidupnya tersebut membuatnya sering dipanggil “mbah Bodong” oleh rekan-rekannya yang maksudnya memiliki perilaku polos, nrimo alias lempeng-lempeng saja.


JUMLAH KUNJUNGAN

  • 40,155 hits

KATEGORI ARTIKEL

9802 UMUM WARTA

GALERI FOTO DI FLICKR

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: