Tarif Kereta Api – Jauh Dekat Sama

Aku pernah punya usulan tapi tidak ditanggapi. Jika aku berposisi sebagai penumpang maka aku merasa dirugikan dengan penerapan pola ketetapan tarif yang berlaku yaitu penetapan jarak minimum pada tarif kereta api.

Penetapan jarak minimum artinya jarak tempuh paling sedikit / dekat jika seorang penumpang membeli karcis kereta api. Contoh, jarak minimum untuk KA Fajar / Senja Utama Yogyakarta adalah 512 km (jarak Jakarta – Yogyakarta) dengan tarif 110 ribu maka seorang penumpang yang naik dari stasiun Pasarsenen dan naik dari stasiun Cirebon untuk tujuan Yogyakarta dikenakan tarif yang sama.

Untuk penumpang yang naik dari stasiun Pasarsenen tidak masalah karena memang menempuh jarak 512 km tetapi yang naik dari stasiun Cirebon cuma menempuh jarak 293 km setelah dikurangi jarak Jakarta – Cirebon 219 km. Jadi perjalanan kereta api sejauh 219 km namun penumpang tetap harus membayar perjalanan kereta api yang tidak dinaikinya. Anehnya, ketetapan tarif ini berlaku hampir di semua kereta api.

Jika menggunakan travel dari Cirebon ke Yogyakarta menggunakan mobil yang dilengkapi AC memakan waktu perjalanan selama 6 jam dikenakan tarif 95 ribu. Di koridor yang sama naik kereta api dalam kelas bisnis (tanpa AC) dengan waktu perjalanan selama 6 jam dikenakan tarif 110 ribu. Mana yang akan dipilih oleh penumpang?. Apalagi jika dibandingkan dengan menggunakan KA Taksaka (kelas Eksekutif) maka dikenakan tarif 210 ribu dengan koridor sama dan waktu tempuh sama.

Pengamatanku pada beberapa travel agent, tampaknya mereka makin berkembang untuk koridor ini. Pada angkutan kereta api masih tetap sama dari bulan ke bulan kecuali pada saat angkutan khusus (liburan besar / hari raya). Jadi penumpang yang naik kereta api adalah orang-orang yang memang tidak mau naik travel (mungkin dengan alasan keselamatan atau mabuk naik mobil).

Jika bisnis mengandalkan kelemahan penumpang (ketakutan / mabuk) maka kereta api tidak pernah akan bisa bersaing dengan travel atau bus untuk koridor di atas. Suatu saat koridor Cirebon – Yogyakarta akan diambil oleh kendaraan jalan raya.

Sebagai salah satu opsi adalah menerapkan tarif fleksibel. Jika seseorang membeli karcis dengan cara memesan sebelum kereta api berangkat stasiun awal maka nomor tempat duduk yang dibelinya tidak bisa digunakan orang lain lagi. Kereta api berangkat dari stasiun Pasarsenen dengan nomor tempat duduk tersebut kosong sampai dengan stasiun Cirebon, maka untuk pemesanan boleh diberlakukan seakan-akan penumpang tersebut naik dari stasiun Pasarsenen.

Namun jika kereta api sudah berangkat dari stasiun Pasarsenen (kosong atau penuh) maka bagi penumpang yang membeli karcis secara langsung di stasiun Cirebon seharusnya tidak lagi dikenakan tarif yang sama dari stasiun Pasarsenen (512 km). Penumpang tersebut harus dikenakan “sisa jarak tempuh” yaitu 293 km dan hanya dikenakan tarif 60 – 65% tarif sesungguhnya. Toh jika kereta api dengan tempat duduk penuh atau kosong-pun tidak akan berpengaruh banyak terhadap “biaya operasi” keseluruhan. Jadi daripada kereta api berjalan dengan penumpang di bawah kapasitas (idle-capasity) akan lebih baik dijual walaupun dengan harga reduksi.

Keuntungan lain adalah DAOP 3 Cirebon dapat bersaing dengan angkutan jalan raya untuk koridor-koridor (Cirebon – Kutoarjo, Cirebon – Semarang dan Cirebon – Surabaya) yang menerapkan ketetapan tarif reduksi tersebut. Dengan cara ini maka sangat optimis DAOP 3 Cirebon akan dapat memenuhi / melebihi target pendapatan.

Dengan ketetapan ini maka “asas keadilan” bagi pengguna jasa kereta api semakin dapat dirasakan masyarakat karena penumpang tidak akan merasa “dirugikan”. Namun atas nama kepentingan bisnis untuk koridor-koridor yang tidak memiliki pesaing potensial tidak perlu diberlakukan ketetapan tarif reduksi ini.

Analisis saja, jika ketetapan ini berlaku akan dipastikan sedikitnya 40% – 70% akan terjadi kenaikan volume penumpang akibat adanya perpindahan penumpang dari angkutan jalan raya ke jalan rel. Jika kenaikan volume penumpang hanya mencapai 20% – 40% maka tidak akan membawa dampak terhadap pendapatan, tetapi jika kenaikan tersebut mencapai di atas 40% maka akan terjadi peningkatan pendapatan.

Semoga melalui cara ini aku mendapat masukkan, apakah metoda ini efektif untuk meningkatkan pendapatan dan usulan aku bisa dipertimbangkan manajemen.


JUMLAH KUNJUNGAN

  • 40,155 hits

KATEGORI ARTIKEL

9802 UMUM WARTA

GALERI FOTO DI FLICKR

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: