Tarif Reduksi Yang Keliru

Mungkin karena usulan tentang reduksi tarif telah kusampaikan ke manajemen (dulu) untuk sebagian koridor sudah ditindaklanjuti. Masalahnya aku tidak pernah diminta untuk melakukan presentasi, jadi penerapannya bisa menyimpang dari yang aku pikirkan dan rencanakan.

Salah satu contoh adalah yang terjadi adalah ketika ketetapan tarif Fajar / Senja Utama Semarang diberlakukan. Saat ini tarif kereta api tersebut untuk koridor Cirebon – Semarang adalah 50 ribu baik melalui pemesanan atau penjualan langsung. Aneh, kenapa bisa begitu.

Logikanya pembelian karcis melalui pemesanan adalah tetap 100 ribu karena stasiun Pasarsenen tidak akan bisa menjual lagi karcis dengan tempat duduk yang sudah dicetak di Cirebon sehingga tempat duduk dengan nomor tersebut kosong sampai dengan Cirebon.

Masalah “asas keadilan” tidak akan timbul jika okupansi kereta api di bawah 100%, tetapi akan timbul masalah jika okupansi melebihi 100%. Stasiun Pasarsenen akan tetap menjual karcis kereta api tersebut tanpa tempat duduk (berdiri) dengan tarif sebesar 100 ribu (sama dengan yang duduk).

Jika stasiun Cirebon menjual karcis melalui pemesanan untuk kereta api tersebut sebanyak 30 penumpang maka dari Pasarsenen sampai Cirebon akan kosong sedikitnya 30 tempat duduk. Tempat itu pasti akan diduduki oleh penumpang yang memiliki karcis berdiri dengan tarif 100 ribu. Namun sesampainya di stasiun Cirebon mereka akan “diusir” oleh si pemilik tempat duduk yang memiliki karcis dengan tarif 50 ribu. Leluconnya adalah fifty-fifty (50 ribu tarif duduk Pasarsenen-Cirebon dan 50 ribu tarif berdiri Cirebon – Semarang) padahal mereka naik dari stasiun awal dengan tarif lebih tinggi.

Bagi perusahaan ketetapan itu jelas kerugian besar baik dari segi finasial atau image perusahaan. Dengan adanya reduksi hingga 50% maka jika volume penumpang tetap maka perusahaan akan kehilangan 50% pendapatan dari kereta api tersebut, namun jika volume penumpang naik hingga 50% maka pendapatan sama. Jadi kenaikan volume penumpang harus di atas 50% agar tercapai peningkatan pendapatan kereta api tersebut. Data saat ini kenaikan penumpang hanya berkisar antara 40% – 60% maka dari segi bisnis penetapan tarif tersebut jelas sangat keliru karena tidak membawa dampak peningkatan pendapatan. Harus diadakan evaluasi ulang dan hal ini sudah aku sampaikan ke KN Bandung.

Jika berlakunya ketetapan ini ditarik sebagai “sampling” untuk koridor lain maka bisa dijadikan acuan untuk menetapkan prosentase reduksi tarif dengan asumsi akan terjadi kenaikan volume penumpang dengan prosentase yang sama.

Untuk kesempatan lain sebaiknya dalam memberlakukan suatu ketetapan harus jelas melalui proposal yang lengkap disertai presentasi penggagas agar keuntungan dan kerugian serta keunggulan dan kelemahan sistem dapat dikaji secara lebih dalam.


JUMLAH KUNJUNGAN

  • 40,155 hits

KATEGORI ARTIKEL

9802 UMUM WARTA

GALERI FOTO DI FLICKR

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: