Hari Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Tanggal 12 Januari adalah Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja. PT. Kereta Api (Persero) merupakan salah satu perusahaan yang sangat mengutamakan keselamatan dan memiliki lingkungan kerja yang terbuka dengan berbagai kondisi. Banyaknya kondisi yang berbeda-beda ini membuat kesulitan tersendiri bagi perusahaan untuk memenuhi kriteria kesehatan kerja yang diharapkan.

Namun demikian Direksi PT. Kereta Api (Persero) tetap berusaha secara optimal untuk mencapai standar keselamatan dan kesehatan kerja tersebut, salah satunya menerbitkan instruksi nomor 01/KP.501/KA-2009 tanggal 7 Januari 2009 kepada seluruh jajaran perusahaan untuk melakukan langkah-langkah konkret melaksanakan keselamatan dan kesehatan kerja.

Di wilayah DAOP 3 Cirebon, instruksi tersebut ditindaklanjuti dengan menerbitkan instruksi KADAOP 3 Cirebon nomor 01/KP.501/I/D.III-2009 tanggal 12 Januari 2009 kepada setiap UPT (Unit Pelaksana Teknis) di lapangan agar melakukan kegiatan-kegiatan, antara lain :

  1. Memasang bendera K3 dan spanduk ber-tema “KITA TERAPKAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN MUTU KERJA”.
  2. Pemeriksaan kesehatan awak kereta api sebelum melaksanakan tugas.
  3. Pemeriksaan kelengkapan dan kehandalan peralatan sarana dan prasarana operasi.
  4. Pengawasan agar setiap pegawai melaksanakan pekerjaan sesuai prosedur kerja yang berlaku.
  5. Pengawasan dan pembinaan agar pegawai menggunakan alat pelindung diri dan peralatan keselamatan kerja secara tertib.
  6. Menempatkan alat pemadan api (kebakaran) di tempat yang mudah terlihat dan terjangkau di tempat-tempat yang rawan terjadi kebakaran misalnya lokomotif, kereta makan, kereta pembangkit, gardu listrik dan lain-lain.
  7. Pemeriksaan peralatan pemadam api (kebakaran), agar dapat berfungsi dengan baik saat diperlukan.
  8. Pemeriksaan terpadu terhadap prasarana dan sarana operasi misalnya wesel yang harus dilakukan secara terpadu antara petugas dinas sinyal, petugas dinas operasi dan petugas dinas jalan rel.
  9. Memasang tanda peringatan bahaya di peron-peron stasiun. Melakukan pemeriksaan terhadap pengelolaan dan pelayanan Griya Karya (bangunan tempat istirahat awak kereta api yang berada di luar daerah kedudukannya).
  10. Kerja bakti massal di lingkungan kerja pada tanggal 16 Januari 2009.

Instruksi tersebut secara bertahap telah dilakukan di beberapa UPT, sedangkan di lingkungan kantor dilakukan penataan kembali tata ruang kerja serta merapikan dokumen-dokumen penting. Sebagian pegawai telah memakai peralatan keselamatan kerja dan perlindungan diri terhadap kemungkinan kecelakaan secara tertib. Sebelumnya banyak yang belum menyadari akan pentingnya peralatan keselamatan tersebut. Di beberapa stasiun telah dilakukan penataan lingkungan dengan membersihkan sampah dan rumput liar sehingga meningkatkan kenyamanan dan kesehatan lingkungan kerja.

Poin-poin di atas seharusnya merupakan tugas rutin yang wajib dilakukan tanpa harus menunggu moment Hari Keselamatan Dan Kesehatan Kerja, karena keselamatan dan kesehatan harus tetap dijaga setiap hari. Dalam setiap prosedur kerja yang berlaku di PT KA misalnya reglemen dan peraturan dinas sudah disebutkan secara eksplisit maupun implisit, namun praktek di lapangan kadang-kadang terjadi deviasi.

Deviasi, karena kurangnya pengawasan dan teguran (baca : punishment). Ke”biasa”an yang berjalan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tersebut seakan-akan telah dianggap sebagai sebuah aturan tidak tertulis yang justru secara “tertib dan konsisten” dilakukan tanpa rasa bersalah. Parahnya kebiasaan tersebut ternyata “diwariskan” ke generasi berikutnya. kemudian berkembang menjadi suatu yang wajib dilakukan.

Dikaitkan dengan faktor penyebab beberapa kecelakaan kereta api dapat disimpulkan bahwa penyebab utama kecelakaan bukan mutlak diakibatkan “faktor saat itu”, tetapi merupakan “faktor komulatif” yang terjadi akibat kebiasaan yang berjalan selama bertahun-tahun dan sudah menjadi “darah daging” beberapa generasi. “Faktor saat itu” yang terlihat pada suatu peristiwa kecelakaan hanya merupakan pemicu (baca : trigger) dari suatu “potential factor” atas terjadinya sebuah kecelakaan.

Faktor potensial yang selama ini terpendam dan dianggap sebagai suatu “rahasia perusahaan” sudah saatnya dibenahi dan diminimalisir efeknya terhadap kemungkinan terjadinya “kecelakaan baru” atau “kecelakaan susulan”.  Kecelakaan baru yang disebutkan di atas mungkin disebabkan oleh faktor potensial lain misalnya diakibatkan tidak berfungsinya prasarana (jalan rel, jembatan, persinyalan atau telekomunikasi) secara baik sedangkan kecelakaan susulan diakibatkan oleh faktor potensial yang sama yaitu kondisi sarana dan kesalahan / kelalaian manusia (human error). Selama ini hanya kondisi sarana dan kesalahan manusia (human error) yang sering dijadikan “kambing hitam” atau “biang kerok” atas terjadinya kecelakaan yang beruntun.

Sebenarnya faktor kesalahan manusia (human error) dalam mengoperasikan sarana jangan hanya dianggap penyebab mutlak pada saat terjadinya peristiwa, tetapi banyak fungsi-fungsi lain di belakang operator yang ikut berperan misalnya tenaga pemeliharaan baik prasarana dan sarana kereta api. Perkeretaapian adalah sebuah sistem yang terkait satu sama lain yang tidak dapat dipisahkan termasuk didalamnya fungsi manajemen selain adanya fungsi teknis.

Fungsi manajemen yang berjalan kurang baik akan berdampak pada fungsi  teknis pemeliharaan, perawatan dan pengawasan kehandalan prasarana dan sarana. Jika ditarik lebih jauh mengenai penyebab kecelakaan kereta api maka setiap peristiwa kecelakaan kereta api sedikit banyak akan menyinggung masalah kesalahan manajemen (management error). Pada prakteknya sangat jarang penyidikan kasus kecelakaan kereta api ditarik hingga akar permasalahan yang memungkinkan kecelakaan yang sama (regular accident) tidak akan terulang kembali. Kalau mau jujur sebenarnya inilah penyebab utama mengapa peristiwa kecelakaan kereta api  dengan  modus dan akibat yang sama terjadi berulang kali.

Jika terjadi anjlog atau terguling yang diakibatkan “as kereta patah” cukup dikatakan “technical  error”. Jika terjadi “tabrakan kereta api dengan kereta api” atau “kereta api dengan kendaraan jalan raya” cukup dikatakan “human error”. Kenapa terjadi “technical error” dan “human error” yang sama, tidak akan pernah terjawab atau tidak pernah mendapat jawaban.

Keselamatan dan kesehatan kerja di bidang perkeretaapian jangan hanya dikonotasikan dalam arti sempit sebagai keselamatan dan kesehatan pegawai kereta api, tetapi harus bersifat menyeluruh (komprehensif) menyangkut keselamatan dan kesehatan masyarakat yang dilayaninya.

Sisi positif dari peringatan Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah mengingatkan kembali pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja. Sebaiknya upaya mengingatkan kembali tersebut tidak hanya dilakukan setahun sekali, tetapi setiap saat harus dilakukan peningkatan pengawasan disertai dengan teguran atau hukuman yang dapat mengandung “efek jera” “lip service” semata yang sekedar merupakan “komoditas publik” untuk meningkatkan citra diri. bagi pelaku penyimpangan. Tanpa itu maka budaya keselamatan dan kesehatan kerja merupakan slogan kosong atau “lip service” semata.

Semoga semua yang telah dilakukan tersebut dapat dijadikan suatu kebiasaan yang baik dan bukan karena adanya moment Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja.


JUMLAH KUNJUNGAN

  • 40,155 hits

KATEGORI ARTIKEL

9802 UMUM WARTA

GALERI FOTO DI FLICKR

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: