Manajemen Resiko dan Perubahan

Tanggal 23 Januari 2009 terjadi lagi kecelakaan kereta api antara KA Rajawali dan KA Antaboga di emplasemen stasiun Kapas, Bojonegoro. Dugaan sementara penyebab kecelakaan adalah “human error” yaitu masinis KA Rajawali melanggar sinyal masuk yang belum ditarik aman, padahal KA Rajawali seharusnya bersilang dengan KA Antaboga di stasiun Kapas.

Terlepas dari siapa yang salah maka yang pasti adalah PT KA kehilangan asset produktif sebanyak 2 unit lok CC201 dan beberapa unit kereta K1 serta beberapa unit gerbong PPCW rusak. Kerugian materil tersebut masih ditambah lagi dengan pemberian santunan kepada penumpang luka-luka atau meninggal dunia serta claim dari pengirim barang di KA Antaboga karena kiriman rusak atau terlambat dikirim / diterima.

Dari sudut non materi kerugian tersebut berupa citra perusahaan yang semakin terpuruk dan semakin sulit untuk mendapat kepercayaan penumpang untuk selalu menggunakan angkutan kereta api. Apa bedanya naik angkutan jalan raya dan kereta api jika sama-sama sering terjadi kecelakaan. Belum lagi jika sebagian penumpang yang mengerti hukum perlindungan konsumen yang akan melakukan “clash action” ke pengadilan. Semakin berat lagi beban dan resiko yang akan ditanggung perusahaan.

Kelalaian sesaat mengakibatkan kerugian moril dan materil yang sedemikian besar dan berat. Apakah hal ini sudah dipahami atau dihayati oleh seluruh jajaran operasional ?  Dengan sangat yakin kujawab : belum !!!.

Sejak tahun 2004 sampai dengan sekarang, PT KA telah berusaha melakukan sosialisasi tentang Manajemen Resiko dimana setiap pegawai operasional seharusnya dapat mengerti dan memahami makna serta maksud Manajemen Resiko tersebut. Indikasi yang terbaca di lapangan ternyata masih banyak pegawai operasional yang belum memahaminya, dapat dilihat dari masih adanya orang-orang yang tidak berkepentingan berada dalam lokomotif. Jika masinis mengerti akan tingginya resiko yang akan ditanggung perusahaan akibat adanya orang yang tidak berhak di dalam kabin masinis maka niscaya masinis tidak akan berani menaikkan orang di lokomotif hanya dengan imbalan beberapa ribu rupiah saja.

Terdapat beberapa alasan mengapa konsep Manajemen Resiko belum dimengerti, dipahami bahkan dihayati oleh sebagian besar pegawai operasional, yaitu :

  • Kursus Manajemen Resiko yang dilaksanakan hanya diikuti oleh pejabat tingkat struktural yang tidak berkaitan langsung dengan pembinaan pegawai operasional atau tidak memiliki wewenang / kompetensi untuk melakukan pembinaan terhadap pegawai operasional, sehingga setelah menyelesaikan kursus maka konsep itu hanya disimpan untuk dirinya sendiri dan tidak disosialisasikan kembali kepada pegawai operasional baik secara formal atau non formal.
  • Tidak adanya dukungan dan kepedulian manajemen di daerah sebagai fasilitator khususnya penyediaan dana untuk melakukan pelatihan konsep Manajemen Resiko secara formal kepada pegawai operasional di lapangan.
  • Materi pelatihan dalam Kursus Manajemen Resiko bersifat “universal / global” terindikasi dari peserta-peserta Kursus Manajemen Resiko terdiri atas beberapa dinas / penugasan atau disiplin ilmu serta tidak terfokus pada satu bidang tertentu agar didapat pemahaman secara detail dan terarah. Selain itu waktu penyelenggaraan kursus yang terlalu singkat sehingga kemungkinan besar materi yang diserap tidak utuh.
  • Pegawai yang telah mengikuti Kursus Manajemen Resiko tidak memiliki pengetahuan, keterampilan dan pengalaman sebagai fasilitator, motivator dan inovator di lingkungan kerjanya untuk melakukan suatu perubahan sesuai konsep-konsep Manajemen Resiko.
  • Alasan terberat adalah Sumber Daya Manusia di lapangan sudah dihinggapi rasa pesimis yang tinggi dan tidak memiliki rasa kepedulian terhadap perusahaan, sehingga konsep apapun yang diberikan tidak akan pernah mengubah pola sikap dan perilaku sehari-hari. Setiap tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka hanya dianggap suatu hal yang “biasa” dan dijalankan seperti “biasa” dengan menggunakan aturan yang “biasa” dan sulit mengubah agar yang “biasanya” menjadi “seharusnya”.

Alasan-alasan tersebut di atas tidak harus disangkal karena memang nyata dan terjadi. Penyangkalan terhadap hal-hal tersebut di atas hanya akan menambah polemik dan menambah intensitas konflik-konflik internal yang sudah banyak. Mari instrospeksi ke diri masing-masing dan mulai berbuat untuk kebaikan perusahaan dengan mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dengan doa.

Segala keburukan sebesar apapun di perusahaan ini bermula dari suatu yang kecil yang kemudian menjadi besar, bermula dari satu individu yang kemudian diikuti oleh individu lainnya dan bermula dari seringnya lupa berdoa kemudian lupa bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa selalu mengawasi perilaku, niat serta segala suatu sekecil apapun yang kita lakukan dan akan dibalas sesuai perbuatan masing-masing.

Inti sari dan kunci dari konsep Manajemen Resiko adalah keinginan untuk berubah menjadi lebih baik karena tanpa itu konsep Manajemen Resiko tidak akan berjalan baik dan hanya menjadi kesia-siaan belaka. Keinginan untuk berubah menjadi lebih baik jangan diartikan dari sudut yang sempit yaitu menuntut kesejahteraan yang lebih baik dari perusahaan atau Pemerintah bahkan melalui demo-demo tuntutan yang membuat citra perusahaan semakin tercemar.

Konsep Manajemen Resiko dan tekad melakukan perubahan harus menjadi “jati diri” dan “sikap mental” seluruh jajaran dari Direksi hingga pelaksana terbawah yang dilandasi dengan sikap toleransi positif, kejujuran, sikap kepemimpinan yang baik serta rasa saling asah, saling asih dan saling asuh baik dari atasan ke bawahan atau sebaliknya.

Setiap kebijakan dan peraturan perusahaan harus mengacu kepada konsep tersebut tanpa dilandasi saling tarik menarik kepentingan antar pihak yang semakin menambah semrawutnya situasi dan kondisi perusahaan yang memang belum sepenuhnya kondusif. Semua pihak harus mulai berfikir dan bertindak dengan satu fokus sesuai visi dan misi perusahaan sesuai dengan skala prioritas yang telah disepakati bersama.

Hilangkan “trik-trik manajemen” yang menimbulkan konflik dan keresahan di kalangan bawah, hindari janji-janji “aneh” yang keluar dari “kalangan manajemen” yang masih bersifat “mungkin” dan ketika saatnya ditagih mencari alasan-alasan yang lebih tidak masuk akal. Kekecewaan dan kekesalan atas ingkarnya janji akan membuat motivasi dan kreativitas pegawai menjadi semakin lemah. Trik atau keputusan manajemen yang kemudian menimbulkan ketidak-adilan bagi pihak yang lain akan menimbulkan keresahan dan menimbulkan rasa tidak percaya kepada manajemen yang dapat berakibat ditolaknya atau tidak dilaksanakannya suatu keputusan.

Suatu hari pernah terdengar perkataan : “bagai makan buah simalakama” atau “dulu mana, telur atau ayam”, saat mendapat pertanyaan “sejahterakan pegawai dulu baru sehatkan perusahaan atau sehatkan dulu perusahaan baru kesejahteraan pegawai”. Jika sejahterakan pegawai dulu maka darimana anggarannya dan jika sehatkan perusahaan dulu maka pegawai yang belum sejahtera tidak akan mungkin memilki motivasi, kreasi apalagi inovasi membangun perusahaan.

Bingung, tapi mungkin sebuah falsafah yang lahir di Amerika bisa memecahkan teka-teki ini yaitu “Jangan tanya apa yang telah diberikan negara kepadamu, tapi tanyalah apa yang telah engkau berikan kepada negaramu”, maka konotasinya untuk PT KA adalah “Jangan tanya apa yang telah perusahaan berikan kepadamu, tapi tanyalah apa yang telah engkau berikan kepada perusahaan”.

Permasalahan yang kemudian timbul adalah pernyataan “Aku tidak pernah melamar untuk menjadi warga negara ini tapi aku pernah melamar pekerjaan pada perusahaan. Aku menjadi warga negara ini karena rela dan ikhlas tetapi bekerja pada perusahaan ini dengan niat mencari nafkah dan hendak meningkatkan taraf hidup”.

Jika sudah begini sebaiknya kembalikan lagi pada masing-masing individu baik di tingkat manajemen atau tingkat pelaksana di lapangan. Tanyakan kembali pada diri masing-masing arti dari sebuah keikhlasan dan kerelaan untuk berbuat sesuatu yang terbaik. Intinya adalah perusahaan ini tidak akan pernah bisa berubah tanpa perubahan prinsip, perilaku dan sikap dari seluruh jajaran pegawainya.

Ingat kata-kata bijak ini : “yang tidak pernah berubah di dunia ini hanyalah perubahan itu sendiri”. Jadi perubahan adalah hal mutlak yang tidak dapat dihindari, maka perubahan yang terbaik adalah berubah menjadi lebih baik menuju kesempurnaan dengan menggunakan hati nurani dan fikiran yang bersih karena hanya itulah hidayah yang Tuhan berikan kepada manusia dan kelebihan manusia dibandingkan makhluk-makhluk lainnya.


JUMLAH KUNJUNGAN

  • 40,155 hits

KATEGORI ARTIKEL

9802 UMUM WARTA

GALERI FOTO DI FLICKR

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: