Mati Di Perlintasan KA adalah Orang Goblok

2009-perlintasanTanggal 1 Februari 2009 jam 15.00, pulang dari jalan-jalan ke Grage Mall Cirebon harus melewati perlintasan di jalan Tentara Pelajar dekat stasiun Cirebonprujakan. Kira-kira 100 meter menjelang sampai pintu perlintasan terdengar sirene perlintasan berbunyi tanda sesaat lagi kereta api akan melintas, mungkin KA Cireks Brebes.

Beberapa kendaraan masih terus melaju walau sirene sudah berbunyi namun aku tetap berhenti sebelum melintas. Beberapa saat kemudian pintu mulai ditutup namun beberapa kendaraan termasuk becak masih mencoba melintas. Aku sempat kaget melihat kenekatan mereka bahkan istriku sempat berkata : “orang-orang itu budeg apa goblok sih … udah jelas kereta mau lewat masih nyelonong aja … kalau mau mati di rumah aja … nggak usah ngerepotin orang lain … “. Aku cuma bisa tersenyum mendengar omelannya.

Tapi mendengar omelannya “budeg apa goblok” tadi sempat terpikir juga bahwa pintu perlintasan bukan sebagai alat pengaman kendaraan jalan raya dan juga bukan sebagai alat pengaman utama perjalanan kereta api tetapi hanya berfungsi sebagai alat bantu pengamanan.

Pintu perlintasan elektrik manual dilengkapi dengan palang pintu, speaker sirene dan 2 lampu merah yang berkedip kiri / kanan jika kereta api akan lewat. Standar operasi pelayanannya adalah sirene berbunyi bersamaan dengan lampu merah menyala kedap kedip dilanjutkan dengan penutupan palng pintu. Aku membuka beberapa situs tentang pintu perlintasan di dunia dan semuanya hampir sama sehingga berkesimpulan bahwa sistem pintu perlintasan memiliki standar khusus dan memiliki fungsi dan kegunaan masing-masing.

Tanda 1 berupa 2 buah lampu warna merah menyala berkedip bergantian.

Tanda 2 buah lampu warna merah menyala berkedip bergantian adalah tanda khusus dan tidak boleh dipakai untuk tanda keperluan lain. Lampu warna merah (2 buah) menyala berkedip bergantian difungsikan untuk orang tuna rungu atau tuli yang kebetulan hendak melintasi jalan rel saat kereta api akan lewat. Tanda peringatan ini akan direspon oleh orang rungu atau tuli dengan berhenti berjalan karena dengan melihat lampu tersebut akan mengetahui bahwa kereta api akan lewat.

Tanda 2 berupa sirene yang berbunyi keras.

Sirene perlintasan berbunyi khusus dan tidak boleh dipakai untuk sirene keperluan lain. Sirene difungsikan untuk orang tuna netra atau buta yang kebetulan hendak melintasi jalan rel saat kereta api akan lewat. Tanda peringatan ini akan direspon oleh orang tuna netra atau buta dengan berhenti berjalan karena dengan mendengar sirene tersebut akan mengetahui bahwa kereta api akan lewat.

Tanda 3 berupa palang pintu setinggi 80 cm dari tanah berwarna merah putih.

Palang pintu setinggi 80 cm dari tanah difungsikan untuk orang yang menderita tuna netra (buta) dan tuna rungu (tuli) jika posisinya sudah terlalu dekat perlintasan (darurat). Selain itu difungsikan untuk memberhentikan orang kurang waras (gila, stress dll) yang kemungkinan melintas, binatang besar misalnya kerbau, sapi atau kuda yang di beberapa negara dibiarkan lepas secara bebas yang jika tertabrak kereta api akan mengganggu kelancaran perjalanan. Di beberapa negara maju perlintasan mamang tidak dijaga dan hanya dilengkapi dengan alat tersebut yang bekerja secara otomatis bahkan di beberapa daerah tidak dilengkapi dengan palang pintu karena dianggap tidak ada hewan besar yang akan melintas atau jika tertabrak tidak akan mengganggu perjalanan kereta api.

Dari ketiga fungsi tadi tidak ada satupun yang difungsikan untuk memberhentikan kendaraan jalan raya karena di beberapa negara untuk memberhentikan kendaraan jalan raya cukup dipasang tanda “STOP”, rambu dilarang lewat berupa papan bundar warna merah dengan strip putih, memasang palang berkaki dari bahan besi / pipa atau diberhentikan paksa dengan memasang papan berpaku di atas jalan raya.

Kesimpulannya adalah jika masih ada orang yang tetap memaksa melewati perlintasan kereta api ketika lampu merah (2 buah) menyala bergantian, sirene sudah bebunyi dan palang pintu sudah / akan ditutup maka orang tersebut tidak termasuk dalam kategori orang normal, orang tuna netra (buta), orang tuna rungu (tuli), orang kurang waras (gila, stress dll) dan bukan pula termasuk jenis binatang besar. Jika orang tuna netra (buta) dan orang tuna rungu (tuli) masih termasuk orang waras karena masih berhenti. Orang kurang waras (gila, stress dll) dan binatang besar secara naluri akan berhenti bila jalannya dihalangi.

Teringat akan ucapan istriku “orang goblok dan orang cari mati” maka jenis orang tersebut tidak termasuk dalam kategori orang yang dilindungi undang-undang / peraturan keselamatan jalan raya dan keselamatan kereta api karena memang tidak disediakan fasilitas alat bantu pengamanan untuk orang goblok dan orang cari mati di perlintasan.

Suatu saat harus ada inovasi agar disediakan alat bantu pengamanan untuk orang goblok dan orang cari mati, karena tingkat kecelakaan yang mengakibatkan kematian pada perlintasan kereta api di Indonesia masih tinggi. Ya, walaupun mereka goblok dan memang cari mati tapi tetap saja mereka manusia yang nyawa-nya harus tetap dihargai. Bisa jadi mereka termasuk orang pandai karena jika mati bunuh diri (gantung diri atau menceburkan diri ke sumur dll) tidak akan mendapat santunan, tapi kalau bunuh diri dengan alibi seakan-akan kecelakakaan di perlintasan maka akan dapat santunan untuk keluarganya.

Jadi, maukah Anda dianggap orang waras, tidak tuli, tidak buta, tidak gila / stress, bukan binatang besar ?  Caranya jangan memaksa lewat (menerobos) di perlintasan bila sirene sudah bebunyi, lampu merah sudah menyala dan palang pintu sudah / akan ditutup. Jika orang tuli, orang buta dan orang gila / stress masih dianggap orang waras oleh peraturan maka berbuatlah lebih baik dari itu.


JUMLAH KUNJUNGAN

  • 40,155 hits

KATEGORI ARTIKEL

9802 UMUM WARTA

GALERI FOTO DI FLICKR

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: