Pelemparan Batu Pada Kereta Api

2009-kaca-pecah1Seringnya pelemparan batu pada kereta api adalah akibat perbuatan iseng tangan jahil yang kebanyakan dilakukan oleh anak-anak usia sekolah. Tanpa disadari oleh mereka bahwa akibat perbuatannya tersebut membuat kerugian materil / harta dan korban orang terluka yang tidak sedikit, bahkan dapat menghambat perjalanan kereta api.

Catatan di wilayah DAOP 3 Cirebon pada tahun 2008 diperoleh data bahwa kerugian materil akibat pelemparan batu sebanyak 497 kaca pecah dan membutuhkan biaya sebesar 278 juta rupiah untuk penggantian kaca, belum termasuk 3 penumpang dan 1 orang masinis luka-luka. Penumpang dan petugas yang terluka tersebut harus dirawat di rumah sakit dan menambah kelambatan kereta api Cirebon Ekspres hingga 30 menit untuk menunggu masinis pengganti.

Dalam tahun 2008, DAOP 3 Cirebon telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat di daerah rawan pelemparan batu melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) dengan memberikan sumbangan berupa peralatan olah raga dan bantuan renovasi tempat ibadah. Dalam sosialisasi tersebut disampaikan resiko-resiko akibat pelemparan batu dan mengharapkan agar masyarakat ikut peduli membantu pengawasan terhadap tangan-tangan jahil yang melakukan pelemparan batu. Hasilnya adalah di wilayah DAOP 3 Cirebon kasus pelemparan batu menurun dari 18 kasus tahun 2007 menjadi 8 kasus pada tahun 2008.

Sayangnya keberhasilan untuk menurunkan kasus pelemparan batu di wilayah DAOP 3 Cirebon tidak dibarengi dengan keberhasilan di wilayah DAOP lainnya (khususnya DAOP 1 Jakarta). Seperti diketahui bahwa KA Argo Jati dan KA Cireks dengan trayek Cirebon – Gambir PP sebanyak 14 perjalanan per hari, pemeliharaannya menjadi tanggung jawab DAOP 3 Cirebon. Hasil evaluasi membuktikan turunnya kasus pelamparan batu di wilayah DAOP 3 Cirebon ternyata tidak menurunkan jumlah kaca pecah akibat pelemparan bahkan terjadi peningkatan dari tahun 2007 sebanyak 413 kaca pecah menjadi 497 kaca pecah pada tahun 2008 yang kebanyakan terjadi di wilayah DAOP lain.

2009-kaca-pecah-2Kaca kereta terdiri dari 13 macam ukuran dengan ketebalan yang sangat jarang terdapat di pasaran maka sangat sulit melakukan pengadaan kaca jendela / pintu kereta serta membutuhkan waktu cukup lama untuk pemesanan. Salah satu cara untuk menekan kasus pelemparan batu adalah melakukan sosialisasi dengan melibatkan pihak Pemerintah Daerah, Kepolisian, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga pendidikan / sekolah dan masyarakat sekitar jalan rel. Sosialisasi semacam ini dinilai cukup efektif walaupun untuk kurun waktu tertentu kemudian marak kembali, namun setidak-tidaknya dapat mengurangi dampak kerugian materil / harta dan penumpang terluka.

Lokasi-lokasi kasus pelemparan batu biasanya dapat dikenali dan diidentifikasi oleh penumpang yang setia menggunakan kereta api bahkan sudah hafal lokasi-lokasi tersebut dibuktikan dengan mereka akan menutup gorden jendela jika melewati daerah tertentu dan membuka kembali jika sudah melewati daerah tersebut. Jika pihak PT KA (Persero) berkata belum atau tidak mengetahuinya maka disimpulkan bahwa perusahaan tidak peduli terhadap keamanan penumpang.

Masalah kasus pelemparan batu yang merugikan perusahaan tersebut tidak hanya menjadi permasalahan DAOP 3 Cirebon saja tetapi hampir semua DAOP memiliki permasalahan tersebut. Data kerugian materil / harta akibat pelemparan batu tahun 2008 untuk seluruh lintas di Jawa kurang lebih mencapai 4 milyar rupiah belum termasuk biaya perawatan / kompensasi penumpang luka-luka walaupun ditanggung oleh pihak PT  Jasa Raharja.

Masyarakat tidak akan mengetahui kerugian tersebut tanpa adanya sosialisasi dari pihak PT KA (Persero) dan hanya akan menganggap bahwa kasus tersebut adalah peristiwa insidentil saja, padahal sesungguhnya kasus pelemparan batu semakin lama menjadi semakin kronis dan terbiasa dilakukan. Peran serta masyarakat akan terjalin jika ada informasi dan komunikasi antara masyarakat dan perusahaan selain adanya saling pengertian kedua pihak untuk saling menguntungkan dan memperhatikan kepentingan masing-masing.

Program CSR adalah cara yang paling efektif saat ini asalkan dilakukan secara berkesinambungan dan bukan cara yang sekali jalan terus ditinggalkan. Permasalahan kasus pelemparan batu harus dilakukan secara intensif dan serius serta melibatkan struktur penegak hukum / unsur pemerintah daerah.

Salah satu cara yang lain adalah menambah KA-KA kelas ekonomi lokal yang berhenti hampir di semua stasiun besar dan kecil agar pelayanan jasa transportasi kereta api dapat dinikmati oleh masyarakat pedesaan. Dengan kemudahan menikmati layanan jasa transportasi kereta api maka rasa kecintaan dan rasa ikut memiliki kereta api akan dirasakan oleh semua lapisan sehingga tanggung jawab moral terhadap keselamatan, keamanan dan ketertiban perjalana kereta api akan menjadi tanggung jawab bersama.

Hilangnya KA-KA ekonomi lokal seiring dengan adanya perubahan status perusahaan dari Perjan menjadi Perum dan kemudian menjadi Perseroan membawa efek perubahan pola pelayanan dari “public service” menjadi “profit-oriented”. Dampaknya adalah perusahaan hanya menjalankan KA-KA kelas eksekutif dan bisnis yang dianggap “profit” dan tidak berhenti di stasiun-stasiun kecil, berakibat masyarakat pedesaan yang notabene golongan “ekonomi lemah” tidak dapat menikmati layanan jasa transportasi kereta api yang semakin “eksklusif”. Wajar jika mereka merasa tidak ikut bertanggung jawab terhadap keselamatan, keamanan dan ketertiban perjalanan kereta api.

Permasalahan mengoperasikan KA-KA ekonomi lokal bukan hanya tanggung jawab PT KA (Persero) tetapi pemerintah juga memegang andil yang sangat besar melalui Direktorat Jendral Perkeretaapian karena jelas bahwa menjalankan KA-KA ekonomi lokal akan mengakibatkan “kerugian” pada perusahaan. Untuk mencapai hasil “balance” antara pemerintah dan perusahaan maka regulasi dan implementasi pembayaran PSO (Pre Sevice Obligation) KA-KA ekonomi harus dilaksanakan secara konsisten oleh pemerintah sebagai salah satu “subsidi” pemerintah kepada masyarakat bawah.

Kesimpulannya adalah jika pemerintah dan perusahaan dapat bekerja sama dengan baik, khususnya dalam mengatasi permasalahan pelemparan batu yang mengakibatkan kerugian materil / harta dan korban manusia akan dapat diminimalisir.

Selanjutnya kita hanya menunggu niat baik pemerintah (cq. DITJENKA) dan PT KA (Persero) untuk memberikan rasa aman, nyaman dan pelayanan yang lebih baik kepada pengguna jasa transportasi kereta api untuk semua lapisan masyarakat yaitu kalangan atas, menengah dan bawah serta menjadikan transportasi kereta api menjadi tulang punggung transportasi darat secara massal sehingga dapat lebih menumbuh-kembangkan perekonomian nasional sesuai amanat dalam UU 23 tahun 2007.


JUMLAH KUNJUNGAN

  • 40,155 hits

KATEGORI ARTIKEL

9802 UMUM WARTA

GALERI FOTO DI FLICKR

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: