Koridor Cirebon-Bandung, Persaingan Kereta Api, Bus Dan Travel

2009-bus1Menyunting pengumuman Ketua DPD SPKA DAOP 3 Cirebon, Den Bagus Toat pada RAKER DAOP 3 Cirebon tanggal 25 Pebruari 2009 terkait masalah pengoperasian KA Bandung Ekspres relasi Cirebon – Bandung PP mendapat protes dari para pengusaha dan awak  bus / travel di Cirebon, menghimbau agar protes / ancaman demonstrasi para pengusaha dan awak angkutan jalan raya disikapi secara bijak.

Setuju atas himbauan tersebut karena  mereka memang memiliki hak untuk mengemukakan pendapat dan melakukan unjuk rasa di muka umum, sepanjang kegiatan tersebut tidak dilakukan secara anarkis dan menurut peraturan hukum yang berlaku.

Musyawarah antara PT KA DAOP 3 Cirebon dan para pengusaha dan awak angkutan jalan raya yang difasilitasi oleh Pemerintah Kota Cirebon pada tanggal 24 Pebruari 2009 tidak membuahkan kata sepakat tentang jalan keluar permasalahan tersebut dan bahkan terkesan memanas karena masing-masing pihak lebih mengutamakan kepentingannya dibanding mengutamakan kebutuhan masyarakat akan transportasi yang lebih baik.

Dari sudut pengusaha dan awak angkutan jalan raya menganggap bahwa dengan berjalannya KA Bandung Ekspres akan berpengaruh terhadap volume penumpang mereka yang saat ini dianggap masih rendah. Rendahnya volume penumpang tersebut sebenarnya dapat diukur dari jumlah armada yang beroperasi, baik jenis bus maupun travel. Dari pengamatan didapat bahwa bus dan travel yang melewati jalur Cirebon – Jatiwangi – Sumedang – Bandung bukan hanya angkutan yang berangkat dari Cirebon saja tetapi dilewati oleh angkutan dengan trayek dari Surabaya atau Semarang untuk tujuan Bandung yang sering mengambil penumpang di sepanjang jalan yang mengurangi volume penumpang bus atau travel relasi Cirebon – Bandung PP.

Selain tidak sebandingnya armada jalan raya dengan jumlah penumpang yang harus dilayani, pengusaha bus dan travel juga bersaing dengan angkutan mobil pribadi yang semakin ramai pada jalur tersebut. Pengguna angkutan pribadi ini sering mengeluh terhadap pelayanan bus yang sering berhenti untuk “ngetem” menunggu penumpang yang menyebabkan waktu perjalanan semakin lama,  sedangkan menggunakan travel selain ongkos yang mahal juga mengakibatkan “stres” karena sopir sering ngebut dan belum lagi kemacetan jalan raya yang terjadi si dekat terminal Sumedang, Jatinangor, Cileunyi hingga terminal Cicaheum.

Dari hasil survey yang dilakukan bulan November 2008 oleh PT KA DAOP 3 Cirebon pada pengguna jalan raya koridor Cirebon – Bandung baik pengguna bus, travel atau kendaraan pribadi mengharap adanya transportasi yang cepat, nyaman, aman dan murah. Transportasi yang tepat untuk melayani keinginan masyarakat tersebut hanya transportasi kereta api, maka atas dasar itulah dijalankan kereta api Bandung Ekspres relasi Cirebon – Bandung PP.

Jadi pada prinsipnya perjalanan KA Bandung Ekspres adalah bertujuan memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat akan jasa transportasi yang lebih baik, maka tidak pada tempatnya jika para pengusaha bus atau travel melakukan protes terhadap perjalanan KA Bandung Ekspres. Seharusnya mereka lebih fokus kepada peningkatan pelayanan jasa transportasi jalan raya agar dapat memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat ketimbang melakukan hal-hal yang tidak akan membuat perubahan pelayanan yang lebih baik.

Inilah yang dinamakan bisnis sehat dalam era demokrasi, yaitu memahami kondisi yang terjadi kemudian melakukan langkah-langkah perbaikan bukan melakukan hal-hal yang membuat kondisi semakin buruk. Jika mengingat pengalaman terpuruknya angkutan KA Parahyangan dan KA Argo Gede dengan dibukanya Tol Padalarang – Bandung – Cileunyi, tentunya PT KA telah mengalami trauma yang cukup dalam dan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. Tetapi PT KA tidak menyalahkan pihak manapun dalam kasus tersebut dan mencoba mencari jalan keluar antara lain dengan menurunkan tarif KA Parahyangan dan KA Argo Gede serta memberhentikan KA-KA tersebut di beberapa stasiun yang sebenarnya keputusan tersebut bukanlah keputusan favorit dan baik.

PT KA DAOP 3 Cirebon sebenarnya juga tengah mengalami ancaman dengan akan dibangunnya Tol  Cikampek – Palimanan (Cirebon) – Brebes (Tegal). Berkaca dari pengalaman DAOP 2 Bandung maka DAOP 3 Cirebon tidak mau bernasib konyol seperti tetangganya, maka harus sejak dini harus memulai inovasi-inovasi untuk mengantisipasi perubahan yang akan terjadi.

Jika Tol Cikapek – Palimanan – Tegal dioperasikan maka secara otomatis kota-kota Tegal, Cirebon, Cikampek, Bandung dan Jakarta akan terhubung melalui jalan tol dan menjadi ancaman yang serius bagi transportasi kereta api. Jika PT KA tidak mengambil langkah-langkah strategis yang inovatif sejak dini dengan menganalisa kembali peluang dan kekuatan moda transportasi kereta api dibanding moda angkutan lain maka nasib yang lebih parah akan menimpa DAOP 3 Cirebon dan kondisi DAOP 2 Bandung akan bertambah parah.

Kesimpulannya, agar semua pihak (pengusaha angkutan jalan raya, PT KA, Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat dll) untuk lebih profesional dalam bertindak dan mengambil keputusan. Marilah berfikir dan bertindak untuk melakukan perubahan yang lebih baik berfokus pada penyediaan transportasi dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Marilah semua pihak berfokus untuk kepentingan masyarakat maka permasalahan akan menjadi lebih jernih dan baik, hilangkan ego kepentingan pribadi jangka pendek yang membuat permasalahan semakin menyesatkan dan kompleks.

Pemerintah telah menyiapkan undang-undang dan peraturan-peraturan yang mengarah kepada terjadinya sinergi antar moda transportasi dengan konsep Inter-Moda, maka gunakanlah konsep tersebut untuk mendapatkan keputusan yang memuaskan semua pihak.


JUMLAH KUNJUNGAN

  • 40,155 hits

KATEGORI ARTIKEL

9802 UMUM WARTA

GALERI FOTO DI FLICKR

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: