Antara Keselamatan Dan Pelayanan Transportasi KA

2009-pelayanan-primaTugas pokok transportasi kereta api sejak pertama kali dibangun sampai sekarang adalah memindahkan orang dan/atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan selamat dan aman. Falsafah ini tetap dipegang oleh sebagian besar karyawan PT KA sehingga pola pikir bisnis hanyalah sebatas pada mengantarkan atau mengangkut. Produk yang dihasilkan oleh PT KA adalah jasa angkutan berupa tempat duduk dalam kereta dihitung berdasarkan penumpang/kilometer dan/atau ruang dalam gerbong dihitung berdasarkan ton/kilometer.

Sejalan dengan perkembangan sosial, budaya dan teknologi berdampak pada perubahan tuntutan pelayanan ke arah yang lebih baik, mudah, cepat, murah dan akurat ketimbang sekedar membeli produk. Saat ini produk bukan lagi menjadi prioritas utama dalam pemasaran jasa namun sistem pelayanan dalam mendapatkan produk yang dipasarkan tersebut telah menjadi topik utama dalam pemasaran jasa.

Bank-bank di Indonesia tidak lagi beriklan dengan menawarkan bunga yang tinggi bagi penabung atau menawarkan bunga yang rendah bagi kreditor namun lebih menawarkan sistem pelayanan yang lebih baik, mudah, cepat, murah dan akurat. Persaingan yang terjadi dalam dunia perbankan adalah berpacu dalam memberikan pelayanan dan fasilitas terbaik dan tidak lagi mengacu pada produk jasa yang dipasarkan. Mereka berlomba menjual pelayanan ketimbang produk.

Jasa transportasi juga tidak lepas dari persaingan maka jika PT KA tidak merubah pola pikir dan pola kerja dalam pemasaran akan dipastikan PT KA akan tergusur dan terpuruk dalam persaingan bisnis yang semakin ketat dan kuat. Kegiatan pelayanan dalam upaya melakukan pemasaran dan penjualan produk jasa transportasi kereta api masih belum banyak berubah jika dibandingkan dengan era tahun 1970-an yaitu pelanggan datang sendiri ke stasiun, membeli karcis, menunggu kemudian naik kereta api, diangkut hingga sampai stasiun tujuan dan setelah itu selesai. Tidak pernah  dilakukan upaya untuk membuat kesan atau stimulasi bagi pelanggan saat meninggalkan stasiun yang membuat mereka akan kembali lagi menggunakan jasa angkutan kereta api.  Ketika mereka membutuhkan  jasa transportasi masih saja menimbang-nimbang kembali apakah ada moda transportasi lain yang lebih baik dari kereta api.

Saat ini PT KA masih bergelut dengan isue-isue keselamatan dan keamanan dimana isue keselamatan dan keamanan transportasi kereta api sebenarnya telah selesai digarap oleh oleh bangsa Belanda saat pertama kali memulai pembangunan perkeretaapian di Indonesia. Untuk urusan ini sebenarnya bangsa Indonesia hanya tinggal meneruskan dan melaksanakan apa yang telah diselesaikan oleh bangsa Belanda tersebut tanpa harus melakukan perubahan-perubahan yang justru hanya menimbulkan polemik yang tidak ada habisnya.

Jika PT KA masih terus bergelut dengan isue-isue keselamatan maka harus diakui secara jujur bahwa  transportasi kereta api bangsa ini mengalami kemunduran selama lebih dari 100 tahun. Perkeretaapian Indonesia merangkak kembali dari awal sejarah pembangunan perkeretaapian di Indonesia pada abad ke-19. Seharusnya PT KA sudah memfokuskan pada pembentukan standar sistem pelayanan yang baik, mudah, cepat, murah dan akurat kepada masyarakat dalam mengantisipasi persaingan bisnis yang semakin ketat.

PT KA sudah sangat jauh tertinggal dalam penggunaan perangkat teknologi informasi dan komunikasi kepada masyarakat termasuk peningkatan dan pengembangan kualitas dan mutu SDM dalam mengoperasikan perangkat informasi dan komunikasi. Perangkat baru yang digunakan saat ini hanya merupakan pengganti dari peralatan lama karena tidak ada pabrikan yang membuat perangkat lama tersebut. Jadi perubahan yang terjadi tidak lebih merupakan keterpaksaan bukan disebabkan adanya keinginan melakukan perubahan.

Keterpaksaan tersebut tidak mampu menciptakan perubahan pola pikir, pola kerja, pola sikap dan mental para karyawan yang notabene masih terikat dengan pola-pola lama yaitu menunggu pelanggan datang, jual produk dan hantarkan serta tidak ada inovasi dan kreativitas agar pelanggan tersebut akan kembali lagi untuk membeli produk.  Mental ingin selalu dilayani (mental ningrat, birokrat) menjadi mental melayani,  tidak serta merta ikut berubah seiring perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan eksternal perusahaan.

Tidak ada kesadaran dan perubahan sikap mental dari para karyawan yang seharusnya  menganggap bahwa pelayanan yang baik adalah pemasaran dan iklan produk yang dijual, pelayanan yang baik adalah peningkatan pendapatan, pelayanan yang baik adalah citra perusahaan dan pelayanan yang baik adalah kesejahteraan karyawan. Semua bekerja dan bergerak sebagaimana rutinitas belaka dengan falsafah yang penting semua telah dikerjakan, masalah memiliki efek positip atau negatip bukan urusan mereka.

Ketika terjadi penetrasi pasar dari pesaing yang mengakibatkan menurunnya penjualan produk maka semua sepakat mencari “kambing hitam” yaitu pemerintah tidak mendukung atau tidak ada perhatian dari pemerintah. Seharusnya yang dilakukan adalah melakukan pembenahan ke dalam dan introspeksi apakah yang telah dilakukan selama ini sudah memenuhi tuntutan masyarakat dan memperhitungkan perubahan-perubahan yang dilakukan para pesaing.

Keselamatan dan keamanan jasa transportasi kereta api adalah harga mati yang tidak dapat ditawar lagi dengan alasan apapun. Tidak ada istilah “tepo seliro”, “tidak tega”, “toleransi” dan “KKN” untuk keselamatan dan keamanan. Tindak tegas untuk semua pelanggaran yang berindikasi pada turunnya tingkat keselamatan transportasi kereta api untuk semua lini jabatan. Keselamatan transportasi kereta api harus menjadi jati diri yang secara otomatis harus terpatri dalam hati dan pikiran setiap insan perkeretaapian yang harus terus menerus tumbuh sejak mulai bekerja hingga mencapai masa pensiun.

Kemudian lakukan standarisasi sistem pelayanan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang modern disertai dengan peningkatan mutu SDM dalam menggunakan teknologi tersebut. Lakukan perubahan pola pikir, pola kerja, pola sikap dan mental para karyawan ujung tombak dan para pejabat bahwa sukses dan hancurnya perusahaan tergantung pada pelayanan yang diberikan kepada masyarakat khususnya pengguna jasa angkutan kereta api.

Kata “keselamatan” seharusnya sudah tidak perlu muncul lagi dalam program perusahaan karena munculnya kata tersebut mengindikasikan bahwa transportasi kereta api belum selamat dan aman karena masih diprogramkan. Keselamatan cukup tertanam dalam hati dan pikiran insan kereta api,  maka jika kata “keselamatan” ini muncul mengindikasikan bahwa “perkeretaapian” bangsa ini belum pernah ada dan baru akan dibangun.

Keselamatan bukan merupakan “lip-service” atau slogan kosong yang pada kenyataannya transportasi kereta api masih saja dihiasi dengan berbagai kecelakaan baik yang diakibatkan oleh prasarana dan sarana yang ujungnya bersumber pada ketidakmampuan SDM untuk menciptakan keselamatan transportasi kereta api.

Jadi daripada menjadi bahan guyonan dan tertawaan masyarakat maka sebaiknya “keselamatan” cukup menjadi motivasi dalam hati dan pikiran masing-masing karyawan saja serta tidak perlu diekspose secara terbuka, kecuali jika slogan-slogan tersebut memang diciptakan untuk mengangkat nama orang-orang tertentu.

1 Response to “Antara Keselamatan Dan Pelayanan Transportasi KA”


  1. 1 jamel virgiawan 13/03/2009 pukul 08:22

    kk blog na keren bgt

    jgn lupa silaturahmi ke blog saya yaa

    http://jamelblog.wordpress.com/


Comments are currently closed.



JUMLAH KUNJUNGAN

  • 40,155 hits

KATEGORI ARTIKEL

9802 UMUM WARTA

GALERI FOTO DI FLICKR

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: