Save Our CC20015

2009-cc20015-01Hadirnya lokomotip CC200 menandakan dimulainya era penggunaan lok diesel di Indonesia yang menggantikan dominasi lok uap. Lok CC200 yang beredar di Indonesia konon dibuat pada tahun 1952 dan mulai beroperasi tahun 1953 yang perjalanan perdananya diresmikan oleh Presiden RI Pertama, proklamator kemerdekaan RI dan Bapak Revolusi Indonesia, Ir. Soekarno.

Namun siapa yang menduga jika peresmian tersebut juga merupakan revolusi bidang industri jasa transportasi kereta api karena setelah itu hadir berbagai lokomotip diesel baik transmisi hidrolik dan transmisi elektrik. Era lok uap sedikit demi sedikit mulai berakhir pada era tahun 1980-an dan pada era 1990-an praktis tidak ada lagi lok uap yang masih beroperasi.

Lok CC200 telah mengabdikan diri pada bangsa ini selama 56 tahun dan menyerahkan tongkat estafet pengabdian kepada generasi berikutnya yaitu CC201, CC203 dan CC204. Salah satu lok yang masih bertahan dalam keaslian dan kegagahan masa lalu adalah CC20015, sedangkan saudara-saudaranya yang lain telah tiada dan hanya meninggalkan kenangan indah dan kejayaan perkeretaapian Indonesia yang tidak akan mudah dilupakan begitu saja.

Jika mau dihitung, berapa juta orang yang telah menikmati jasa lok ini dan berapa juta ton barang yang telah diangkutnya. Untuk mengenang semua itu apakah kita rela dan tega membiarkan CC20015 menjadi onggokan besi tua yang kemudian musnah tanpa bekas bersamaan dengan kejayaan yang pernah diraihnya. Tidak, walaupun dia adalah sebuah barang mati dan tidak dapat merasakan apa yang kita rasakan. Bayangkan, berapa ribu karyawan kereta api yang menggantungkan hidup dan keluarganya pada kehandalan lokomotif ini dan berapa ribu anak-anak karyawan kereta api yang mungkin kini telah “menjadi orang” karena jasa lokomotif ini.

Rasa cinta dan sayang pada lok ini telah dibuktikan oleh rekan-rekan yang tergabung dalam wadah IRPS (Indonesian Railway Preservation Society) yang berhasil mempertahankannya dari kepunahan total walaupun mereka mungkin tidak pernah bersentuhan dan memiliki hubungan dengan lok ini. Contoh tersebut seharusnya menjadi bahan renungan bagi segenap karyawan kereta api baik yang sudah pensiun atau yang masih aktif bahwa walaupun lokomotif adalah benda mati namun tetap membawa sejarah dan sangat berperan dalam kehidupannya.

Masih banyak lokomotip-lokomotip lain dari berbagai tipe dan jenis yang terancam kepunahan namun tidak satupun institusi dalam tubuh Perkeretaapian Indonesia yang memiliki wacana untuk tetap mengabadikan salah satu saja dari lok-lok tersebut agar mampu menjadi kenangan sejarah bangsa ini sekaligus menjadi kenangan sejarah hidup selama bertugas di perkeretaapian.

Lok CC20015 yang telah renta termakan usia diwacanakan sebagai penarik kereta api Djoko Kendil yang pernah berjaya di era tahun 1930-an namun tidak pernah disiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya. Jika dengan menjalankan kereta api Djoko Kendil bertujuan menghidupkan kembali sejarah kejayaan masa lalu maka bersiaplah dengan dana yang cukup untuk pemeliharaannya yang mungkin tidak sebanding dengan pendapatannya. Namun jika kereta api itu dijalankan dengan tujuan bisnis semata maka bangsa ini harus bersama-sama menyatakan “STOP” dan “JANGAN LAKUKAN” karena sudah dipastikan saksi sejarah itu akan mati total.

Saat ini CC20015 yang dijuluki “Si mBah Buyut” tersebut terbaring sakit di dipo lok Cirebon karena sudah tidak memiliki organ tubuh (baca : suku cadang) pengganti untuk membuatnya sehat kembali sedangkan untuk menggantinya dengan organ tubuh saat ini tidak mungkin dilakukan karena akan menghilangkan keaslian dan keabadiannya. Untuk itu dibutuhkan pengertian semua pihak agar  “mBah Buyut” ini tidak punah.

Untuk menyembuhkan “mBah Buyut” dari sakit yang dideritanya, Kasi Sarana DAOP 3 Cn beserta seluruh jajaran Dipo Lok Cirebon bekerja keras agar “mBah Buyut” dapat bangkit dari tidurnya dan dapat bercerita kembali tentang masa kejayaannya bagi generasi penerus.  Dokter khusus pribadinya yang saat ini juga sudah pensiun dari tugasnya, terpaksa harus dipanggil kembali untuk merawatnya.

Baju “mBah Buyut” masih terlihat baru seperti waktu dia masih muda namun tubuhnya tetap renta. Dia sakit di Surabaya dan tidak dapat bangun sehingga harus dibawa ke Cirebon agar dirawat oleh dokter pribadinya yang juga telah renta termakan usia. Akankah “mBah Buyut” dan dokter pribadinya harus meninggalkan kenangan tanpa sedikitpun generasi saat ini yang mampu merawatnya ?  Atau sebaiknya “mBah Buyut” dibuatkan rumah (baca : musium) agar dia dapat beristirahat dengan tenang dan sesekali bercerita tentang suka dukanya selama pengabdiannya di Indonesia ?.

Sekali lagi perlu diingat adalah jangan biarkan “mBah Buyut” dipaksa untuk mencari uang dalam kondisi tua renta. Biarkan dia bercerita pada saat dimana dia harus bercerita atau biarkan berjalan-jalan dimana orang-orang mau mendengar ceritanya. Sisihkanlah anggaran untuk merawat dia agar tetap hidup selama mungkin.

Semoga “mBah Buyut” tetap hidup dan kami ingin selalu mendengar cerita tentang pengabdiannya.

4 Responses to “Save Our CC20015”


  1. 1 b i e b 17/03/2009 pukul 22:58

    mari bersama2 kita dukung pelestarian CC 200,”FOCC200″ !!

  2. 2 adit 18/03/2009 pukul 05:55

    mari qta jaga she mbah

  3. 3 zian zr 18/03/2009 pukul 13:36

    mbah jangan tinggalin kita…

  4. 4 RiezZ 05/05/2009 pukul 05:14

    kasian banget!!!!!!!!!!!😦
    bukannya masih ada CC 200 08 n` CC 200 09???

    kok PT.KAI ga mau lagi beli CC 200?
    kan unik tuh lok!!!!!

    kalo menurut aku sehh CC 200-CC 200 yg belum dimutilasi, mening di jadiin pameran di Ambarawa, atau di stasiun2

    meski tanpa mesin, kan ga apa-apa!buat mengenang the first diesel electric locomotive in Indonesia


Comments are currently closed.



JUMLAH KUNJUNGAN

  • 40,155 hits

KATEGORI ARTIKEL

9802 UMUM WARTA

GALERI FOTO DI FLICKR

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: