TAWANGKU SAYANG, TAWANGKU MALANG ….

tawangStasiun Semarang Tawang, salah satu stasiun dengan arsitektur terindah yang dibangun pada tahun 1911 dan selesai tahun 1914 dengan arsitek bernama Sloth Blauwboer. Namun sungguh sayang akibat perkembangan kota yang semakin pesat serta sistem tata kota yang belum pas dengan kondisi kota pinggir pantai maka stasiun Semarang Tawang sering digenangi banjir akibat hujan atau rob (rembesan air laut jika permukaan laut pasang).

Kondisi yang telah berulang selama bertahun-tahun ini telah membuat halaman dan peron stasiun Semarang Tawang telah mengalami peninggian 2 kali setinggi 150 cm sejak tahun 1990 sampai dengan 2008. Pada tahun 2009 ini stasiun tersebut akan ditinggikan lagi setinggi 90 cm yang mengakibatkan peninggiannya mencapai 240 cm. Sayangnya peninggian tersebut tidak serta merta meninggikan bangunan yang sejak tahun 1992 telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya dengan SK Walikota Madya Semarang nomor 646/50 tahun 1992.

Bangunan yang semula megah terlihat dari depan kini semakin “ndeprok” alias “kontet” alias “bogel” sehingga menghilangkan kemegahan asli bangunan tersebut. Kesan sebagai Benda Cagar Budaya sudah tidak terlihat lagi, bahkan stasiun itu saat ini terlihat lucu bagai berada di tengah kolam. Sungguh tragis nasib stasiun Semarang Tawang yang dulu diagung-agungkan sebagai karya seni tinggi kini hanya bagai sebuah bangunan tua tanpa seni dan nilai sejarah yang semakin menghilang bersama kekaguman masyarakat Semarang terhadap stasiun ini.

Perlakuan buruk sebagai Benda Cagar Budaya ini sebenarnya telah diakomodasi oleh Dinas Tata Kota dan Perumahan Kota Semarang dengan menerbitkan SP4 untuk menghentikan proyek peninggian dengan alasan belum memiliki ijin. Aneh, sebuah proyek besar yang dilakukan didepan mata masyarakat tidak melakukan permintaan ijin terlebih dulu. Sebuah contoh yang tidak baik buat masyarakat bahwa bangunan Cagar Budaya yang seharusnya sudah menjadi milik masyarakat dan pemerintah / negara mampu mengabaikan sebuah peraturan daerah.

Pelaksana proyek ini adalah SATKER (Satuan Kerja Prasarana Kereta Api) dibawah pengawasan Dinas Perhubungan Propinsi Jawa Tengah sehingga seharusnya terdapat saling menghormati sesama institusi pemerintah. Juga terhadap BP3 (Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala) yang tidak diberitahu bahwa akan dilakukan peninggian pada stasiun Semarang Tawang. Setelah berhenti beberapa saat akibat terbitnya SP4 dari DTKP Semarang maka permasalahannya diambil alih oleh Dinas Perhubungan Propinsi Jawa Tengah.

Saat ini pekerjaan tersebut sudah dimulai lagi tanpa ijin DTKP Kota Semarang dan rekomendasi dari BP3 Jawa Tengah. Lagi-lagi permasalahan tidak menghormati tugas pokok dan fungsi antar institusi pemerintah terulang kembali. Bangunan dengan seni arsitektur indah harus dikorbankan hanya karena kecerobohan perencanaan sebelum pelaksanaan proyek dilakukan. Jika saja sejak awal perencanaan sudah melibatkan para ahli konservasi, ahli tata ruang kota, ahli transportasi dan ahli hidraulika maka bangunan stasiun Semarang tidak akan bernasib demikian.

Saat ini tidak satupun yang berani mengangkat tangan untuk mengaku bertanggung jawab atas kerusakan akibat kecerobohan tersebut. Semua bersembunyi dan saling melindungi untuk melakukan konspirasi membuat kerusakan stasiun Semarang Tawang.

Tawangku Sayang, Tawangku Malang. Engkau Hanya Seonggok Benda Mati Yang Dulu Dipuja. Engkau Dianggap Bersejarah Dan Kebanggaan Kota Semarang. Engkau Memiliki Seni Tinggi Dan Keanggunan Nan Memikat.

Kini Setelah Usiamu Menggapai Seabad. Engkau Pupus Karena Keserakahan Manusia Tanpa Budaya. Menghilangkan Keanggunanmu, Menghilangkan Daya Pikatmu. Kini Engkau Bagai Seonggok Tembok Tanpa Makna Dan Budaya.

Wahai … Manusia Tanpa Budaya Yang Meruntuhkan Pujaanku. Mampukan Batinmu Menanggung Beban. Telah Menghapus Sejarah, Seni Dan Budaya Dari Tawangku. Masihkah Engkau Mampu Berbicara Budaya Dihadapanku.

Wahai …. Manusia Yang Berdiri Dengan Kekuasaan. Mampukan Engkau Menanggung Beban. Ketika Kelak Dari Dalam Kuburmu Mendengar. Anak, Cucu Dan Generasi Penerusmu Berteriak Kepadamu “Haram Jadah”

Salam, Totok Purwo (Just Say I Love You Forever My Tawang).

1 Response to “TAWANGKU SAYANG, TAWANGKU MALANG ….”


  1. 1 Deddy 26/06/2009 pukul 05:00

    mamang kita yg harus menjaga dan merawatnya, supaya kita tidak kehilangan jatidiri karena kehilangan sejarah…kalau bukan kita siapa lagi yg mau menjaganya…?


Comments are currently closed.



JUMLAH KUNJUNGAN

  • 40,155 hits

KATEGORI ARTIKEL

9802 UMUM WARTA

GALERI FOTO DI FLICKR

Lebih Banyak Foto

%d blogger menyukai ini: