Posts Tagged 'OPINI'

STASIUN SEMARANG TAWANG BERMASALAH ??

TAHAP PERENCANAAN

Pelaksanaan “feasibility study” peninggian stasiun Semarang Tawang seharusnya melibatkan paling tidak 4 (empat) pakar bidang studi yaitu : pakar arkeologi, pakar hidrologi, pakar tata lingkungan dan pakar arsitektur bangunan kuno. Melihat kasusnya terkesan bahwa “feasibility study” tidak dilakukan atau tidak dilakukan dengan benar.

Perijinan peninggian stasiun Semarang Tawang harus dimintakan dulu ke Dinas Tata Kota dan Perumahan (DTKP) Kota Semarang dan harus melalui tahap penerbitan rekomendasi dari Dirjen Sejarah dan Purbakala cq Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah. Tahap ini juga tidak dilakukan.

Penetapan alasan peninggian stasiun Semarang Tawang hanya berdasarkan dari satu sudut pandang yaitu gangguan terhadap pelayanan penumpang (masyarakat ??) yang hendak bepergian dengan kereta api dari stasiun Semarang Tawang. Sudut pandang bahwa bangunan tersebut sebagai BCB (Benda Cagar Budaya) agak dikesampingkan yaitu mengabaikan kaidah (guidence) penanganan BCB yang seharusnya mampu mengacu pada pasal 23 ayat 3 PP 10/1993 tentang pemintakatan (zonasi) situs dan lingkungan BCB yang dibagi atas mintakat inti, penyangga dan pengembangan.

Perencanaan yang tidak matang tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembuatan “technical study” dan penyusunan Detail Engineering Design (DED) yang jelas-jelas menyimpang dari penanganan BCB sesuai UU 5/1992, PP 10/1993 dan keputusan konvensi internasional tentang BCB yang telah diratifikasi yaitu BURRA CHARTER dan VENICE CHARTER.

Lanjutkan membaca ‘STASIUN SEMARANG TAWANG BERMASALAH ??’

Iklan

Save Our CC20015

2009-cc20015-01Hadirnya lokomotip CC200 menandakan dimulainya era penggunaan lok diesel di Indonesia yang menggantikan dominasi lok uap. Lok CC200 yang beredar di Indonesia konon dibuat pada tahun 1952 dan mulai beroperasi tahun 1953 yang perjalanan perdananya diresmikan oleh Presiden RI Pertama, proklamator kemerdekaan RI dan Bapak Revolusi Indonesia, Ir. Soekarno.

Namun siapa yang menduga jika peresmian tersebut juga merupakan revolusi bidang industri jasa transportasi kereta api karena setelah itu hadir berbagai lokomotip diesel baik transmisi hidrolik dan transmisi elektrik. Era lok uap sedikit demi sedikit mulai berakhir pada era tahun 1980-an dan pada era 1990-an praktis tidak ada lagi lok uap yang masih beroperasi.

Lok CC200 telah mengabdikan diri pada bangsa ini selama 56 tahun dan menyerahkan tongkat estafet pengabdian kepada generasi berikutnya yaitu CC201, CC203 dan CC204. Salah satu lok yang masih bertahan dalam keaslian dan kegagahan masa lalu adalah CC20015, sedangkan saudara-saudaranya yang lain telah tiada dan hanya meninggalkan kenangan indah dan kejayaan perkeretaapian Indonesia yang tidak akan mudah dilupakan begitu saja.

Jika mau dihitung, berapa juta orang yang telah menikmati jasa lok ini dan berapa juta ton barang yang telah diangkutnya. Untuk mengenang semua itu apakah kita rela dan tega membiarkan CC20015 menjadi onggokan besi tua yang kemudian musnah tanpa bekas bersamaan dengan kejayaan yang pernah diraihnya. Tidak, walaupun dia adalah sebuah barang mati dan tidak dapat merasakan apa yang kita rasakan. Bayangkan, berapa ribu karyawan kereta api yang menggantungkan hidup dan keluarganya pada kehandalan lokomotif ini dan berapa ribu anak-anak karyawan kereta api yang mungkin kini telah “menjadi orang” karena jasa lokomotif ini.

Rasa cinta dan sayang pada lok ini telah dibuktikan oleh rekan-rekan yang tergabung dalam wadah IRPS (Indonesian Railway Preservation Society) yang berhasil mempertahankannya dari kepunahan total walaupun mereka mungkin tidak pernah bersentuhan dan memiliki hubungan dengan lok ini. Contoh tersebut seharusnya menjadi bahan renungan bagi segenap karyawan kereta api baik yang sudah pensiun atau yang masih aktif bahwa walaupun lokomotif adalah benda mati namun tetap membawa sejarah dan sangat berperan dalam kehidupannya.

Lanjutkan membaca ‘Save Our CC20015’

Antara Keselamatan Dan Pelayanan Transportasi KA

2009-pelayanan-primaTugas pokok transportasi kereta api sejak pertama kali dibangun sampai sekarang adalah memindahkan orang dan/atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan selamat dan aman. Falsafah ini tetap dipegang oleh sebagian besar karyawan PT KA sehingga pola pikir bisnis hanyalah sebatas pada mengantarkan atau mengangkut. Produk yang dihasilkan oleh PT KA adalah jasa angkutan berupa tempat duduk dalam kereta dihitung berdasarkan penumpang/kilometer dan/atau ruang dalam gerbong dihitung berdasarkan ton/kilometer.

Sejalan dengan perkembangan sosial, budaya dan teknologi berdampak pada perubahan tuntutan pelayanan ke arah yang lebih baik, mudah, cepat, murah dan akurat ketimbang sekedar membeli produk. Saat ini produk bukan lagi menjadi prioritas utama dalam pemasaran jasa namun sistem pelayanan dalam mendapatkan produk yang dipasarkan tersebut telah menjadi topik utama dalam pemasaran jasa.

Bank-bank di Indonesia tidak lagi beriklan dengan menawarkan bunga yang tinggi bagi penabung atau menawarkan bunga yang rendah bagi kreditor namun lebih menawarkan sistem pelayanan yang lebih baik, mudah, cepat, murah dan akurat. Persaingan yang terjadi dalam dunia perbankan adalah berpacu dalam memberikan pelayanan dan fasilitas terbaik dan tidak lagi mengacu pada produk jasa yang dipasarkan. Mereka berlomba menjual pelayanan ketimbang produk.

Jasa transportasi juga tidak lepas dari persaingan maka jika PT KA tidak merubah pola pikir dan pola kerja dalam pemasaran akan dipastikan PT KA akan tergusur dan terpuruk dalam persaingan bisnis yang semakin ketat dan kuat. Kegiatan pelayanan dalam upaya melakukan pemasaran dan penjualan produk jasa transportasi kereta api masih belum banyak berubah jika dibandingkan dengan era tahun 1970-an yaitu pelanggan datang sendiri ke stasiun, membeli karcis, menunggu kemudian naik kereta api, diangkut hingga sampai stasiun tujuan dan setelah itu selesai. Tidak pernah  dilakukan upaya untuk membuat kesan atau stimulasi bagi pelanggan saat meninggalkan stasiun yang membuat mereka akan kembali lagi menggunakan jasa angkutan kereta api.  Ketika mereka membutuhkan  jasa transportasi masih saja menimbang-nimbang kembali apakah ada moda transportasi lain yang lebih baik dari kereta api.

Lanjutkan membaca ‘Antara Keselamatan Dan Pelayanan Transportasi KA’

Demi Kepentingan Birokrasi, Kepentingan Masyarakat Dikorbankan

03-logoka1Keberanian Direksi baru PT KA (Persero) diuji dan ternyata tidak ada perubahan yang signifikan dan masih “penakut”. Menanggapi surat KADISHUB JABAR tanggal 26 Pebruari 2009 nomor 551.21/484/KD-T.DAT perihal pengoperasian kereta api Bandung – Cirebon memuat penegasan dan perintah agar KA Bandung Ekspres ditunda sampai dengan waktu yang tidak ditentukan.

Penundaan tersebut karena adanya protes dan keresahan yang terjadi pada operator angkutan bus koridor Cirebon – Bandung dengan alasan kurangnya komunikasi dan koordinasi dengan pihak yang terkait.

Alasan tersebut terkesan mengada-ada untuk menutupi kebobrokan dan ketidakbecusan yang terjadi pada Dinas Pehubungan Jawa Barat dalam mengatur jumlah armada dan kebutuhan masyarakat pada koridor tersebut. Ketika moda transportasi lain (kereta api) juga membuka jalur tersebut dan kemudian menimbulkan keresahan maka dikhawatirkan pihak-pihak terkait (misalnya LSM dan wartawan) akan melakukan observasi dan investigasi penyebab keresahan. Kemudian secepatnya kasus tersebut ditanggapi agar tidak meluas dan akan membuka “borok”  di lingkungan DISHUB JABAR. Begitulah jika para birokrat bekerja dalam menangani permasalahan.

Lanjutkan membaca ‘Demi Kepentingan Birokrasi, Kepentingan Masyarakat Dikorbankan’

Koridor Cirebon-Bandung, Persaingan Kereta Api, Bus Dan Travel

2009-bus1Menyunting pengumuman Ketua DPD SPKA DAOP 3 Cirebon, Den Bagus Toat pada RAKER DAOP 3 Cirebon tanggal 25 Pebruari 2009 terkait masalah pengoperasian KA Bandung Ekspres relasi Cirebon – Bandung PP mendapat protes dari para pengusaha dan awak  bus / travel di Cirebon, menghimbau agar protes / ancaman demonstrasi para pengusaha dan awak angkutan jalan raya disikapi secara bijak.

Setuju atas himbauan tersebut karena  mereka memang memiliki hak untuk mengemukakan pendapat dan melakukan unjuk rasa di muka umum, sepanjang kegiatan tersebut tidak dilakukan secara anarkis dan menurut peraturan hukum yang berlaku.

Musyawarah antara PT KA DAOP 3 Cirebon dan para pengusaha dan awak angkutan jalan raya yang difasilitasi oleh Pemerintah Kota Cirebon pada tanggal 24 Pebruari 2009 tidak membuahkan kata sepakat tentang jalan keluar permasalahan tersebut dan bahkan terkesan memanas karena masing-masing pihak lebih mengutamakan kepentingannya dibanding mengutamakan kebutuhan masyarakat akan transportasi yang lebih baik.

Lanjutkan membaca ‘Koridor Cirebon-Bandung, Persaingan Kereta Api, Bus Dan Travel’

Masyarakat Cirebon Harus Tuntut Transportasi Murah

2009-krdiKereta api Tegal Arum trayek Tegal – Jakartakota kelas ekonomi penuh sesak oleh penumpang dari Tegal, Brebes, Bulakamba, Tanjung dan Losari. Kereta api yang berangkat dari Tegal jam 06.15 ini berjalan di belakang kereta api Cirebon Ekspres (KA Cireks) trayek Brebes – Gambir berhenti hampir di semua stasiun antara Tegal sampai dengan Cikampek.

Walaupun berjalan di belakang KA Cireks yang relatif lebih kosong namun penumpang tetap memilih KA Tegal Arum yang memiliki tarif lebih murah yaitu Rp. 15.000,- dari Tegal dan Rp. 12.000,- dari Cirebonprujakan. Memang KA Tegal Arum adalah kereta api murah meriah. Murah karena tarifnya rendah, meriah karena penuh sesak penumpang ditambah pedagang asongan, pengamen dan pengemis. Komplit.

Pada hari Senin, Rabu dan Jum’at atau waktu liburan besar seperti libur sekolah, biasanya kereta api ini sesak luar biasa yang mengakibatkan penumpang dari Babakan, Cirebonprujakan, Bangoduwa, Arjawinagun, Jatibarang dan seterusnya susah untuk naik bahkan sering ketinggalan. Masalah ini sering menimbulkan komplain dari penumpang, tetapi yang lebih pokok adalah kegiatan masyarakat menjadi terganggu.

Lanjutkan membaca ‘Masyarakat Cirebon Harus Tuntut Transportasi Murah’

Kadaop 3 Cirebon : “Manfaatkan External-Resource”

2009-external-resourcesDalam kesempatan rapat dengan Kadaop 3 Cirebon, Purnomo Radiq Yogaswara sempat tercatat sebutir inovasi darinya yaitu “manfaatkan potensi external-resource”. Dalam arahannya banyak hal-hal di luar PT KA (Persero) yang dapat dimanfaatkan untuk menarik minat orang untuk naik kereta api tanpa harus mengeluarkan biaya pemasaran (marketting) yang tinggi antara lain dengan sistem barter produk.

Salah satu contoh diungkapkan misalnya bekerja sama dengan produsen motor untuk memperkenalkan salah satu produknya kepada penumpang kereta api dengan cara memajang satu motor merek tertentu di hall stasiun Cirebon. Kepada produsen motor tersebut tidak dikenakan biaya iklan namun motor yang dipajang tersebut akan menjadi milik PT KA (Persero) yang akan dihadiahkan kepada penumpang kereta api melalui suatu undian dengan syarat dan masa waktu tertentu.

Sistem barter tersebut akan menguntungkan kedua belah pihak yakni produsen motor dapat melakukan promosi tanpa biaya sedangkan PT KA (Persero) akan mendapat image yang positif dari penumpang serta meningkatkan motivasi masyarakat untuk naik kereta api. Ini suatu inovasi positif dan harus ditindaklanjuti segera.

Lanjutkan membaca ‘Kadaop 3 Cirebon : “Manfaatkan External-Resource”’


JUMLAH KUNJUNGAN

  • 43.919 hits

KATEGORI ARTIKEL

9802 UMUM WARTA

GALERI FOTO DI FLICKR

Iklan